(Beberapa tahun yang lalu)


A : "Coba deh kamu dengerin lagunya GBS, yang judulnya Jangan Berkata Dalam Hati itu loh."
B :  "Loh emangnya kenapa gitu? bagus?
A :  "BANGET", ujarnya penuh semangat.
A : "Pokoknya harus denger ya."

Beberapa hari setelahnya, aku pun mencoba mendengarkan lagu yang dia pinta aku untuk dengar. Keputusanku untuk mendengar lagu itu cukup tepat, dengan aku yang mampu menikmatinya. Namun, aku merasakan hal yang lebih dari itu. Hal yang lebih dari sekadar kenikmatan nada. Aku merasa bahwa dia bukan sekedar memberikan rekomendasi lagu. Dia menegurku!

Sejak kecil, aku bukanlah penikmat bercerita. Aku bukanlah penggiat dalam penyampaian. Justru, hal yang lebih aku gemari adalah ketika aku ada dalam mendengarkan cerita orang lain. Sebelum percakapan itu berlangsung dan teguran implisit itu tersampaikan, tidak ada orang yang mempermasalahkan kebiasaanku tersebut, yang pada nyatanya, entah orang-orang tidak mempermasalahkan kebiasaanku atau mereka tidak mempedulikan adaku.

Teguran tersebut sangatlah berarti bagiku. Akupun perlahan-lahan menyesuaikan diri untuk menjadi private story teller. Aku berusaha untuk berpikir lebih demi mendapatkan bahan untuk diceritakan padanya. Mulai dari 'eh aku abis dengerin lagu incompletenya backstreet boys yang kamu saranin itu loh!', 'gimana? kamu sama kakakmu udah baikan kan?', sampai cerita persekolahan seperti keluh kesah ujian sekolah.

(Setelah beberapa tahun yang lalu)

Selepas berbagai jarak yang kita ciptakan dan tak satupun dari kita yang (terlihat) mencoba menguranginya, aku rasa inti dari lagu Jangan Berkata Dalam Hati-nya GBS takkan aku amalkan dalam waktu dekat.

Sabtu, 09 Desember 2017 Leave a comment

« Postingan Lama
Elegant Rose