Alkisah

Pada suatu hari, kepadamu, aku bercerita.

Kubuka sebuah kanal berita olahraga, sebuah media ternama asal Italia, yang memberitakan megatransfer seorang pemain sepakbola dengan harga 222 Juta Poundsterling. "Konyol bukan?" Kamu membalas dengan sebuah panggutan.

Kubuka tirai jendela berikut dengan apa yang dilapisinya, lantas kumatikan musik yang memenuhi langit-langit kamarku, supaya aku dapat mendengar gemuruh perjalanan angin yang hadir tak biasanya. "Kemarau yang aneh. Anginnya tak mampu kupahami." Kamu pun membalas hanya dengan senyuman.

Kubuka album masa kecilku, tersusun padanya versi kecilku yang lebih cocok dianggap sebagai larva dari aku yang sudah bermetamorfosa. "Putih kulitku, tembam pipiku. Oh, aku yang dulu sungguh menggemaskan." Kamu meresponku dengan tepukkan tangan pada dahimu.

Aku hendak melanjutkan penyampaianku, sebelum kamu menempatkan satu jari telunjukmu dibibirku. "Sebenarnya apa maksudmu?", tanyamu. Aku pun terpaksa membuat simpulan lebih awal, menanggapi kamu yang tak bersabar. "Pembukaan. Kunci dari segala keluhku. Kunci dari segala kesahku. Kunci dari segala ejekanku. Kurasa aku akan berhenti untuk membuka. Berhenti untuk memulai."

Kamu tak langsung merespon simpulanku. Kulihat kamu terlebih dahulu meminum americano favoritmu. Tak lupa kamu hirup aromanya secara perlahan. Setelah helaan nafas ketigamu, lantas kamu balas ujaranku. "Kamu menyesal telah membuka dan memulai?", tanyamu.

"Ya." Singkat, padat, jelas. Lantas kamu pun tertawa. Tawamu kamu hentikan, dan kamu melanjutkan percakapan.

"Lalu kamu berharap untuk tidak membuka dan memulai sesuatu kembali di kemudian hari?"

Sebelum kujawab, kusempatkan untuk mengintip kedua bola matamu. Warna hazelnya begitu menyala. Matamu selalu begitu ketika kamu sedang serius-seriusnya.

"Ya. Aku lebih baik tidak mengetahui banyak hal, jika banyak hal itu hanya membawaku kepada asumsi dan pendapat yang penuh subjektivitas dan tak selamanya nyata."

"Lalu apa yang kamu inginkan? pendapat yang selalu benar? begitukah?", tanyamu.

"Ya. Hal yang aku inginkan..." perkataanku kamu potong.

"Sudahlah, berhenti bicara. Apa yang nyata adalah apa yang ada dipikiranmu. Apa yang hidup adalah sesuatu yang kamu rasakan..." terhenti ucapanmu oleh tegukkan terakhir dari americanomu, setelahnya kamu melanjutkan, "Jangan pernah berhenti untuk berpikir. Jangan pernah berhenti untuk merasa. Jangan berhenti untuk merespon. Jangan pernah berhenti untuk mengetahui."

Aku pun terdiam mendengar ucapanmu. Kamu layangkan pertanyaan lagi kepadaku. "Apakah kamu tahu salah satu alasan mengapa aku mencintaimu?"

"Aku tak mau menebak. Lebih baik langsung kamu sampaikan."

"Alasanku yaitu karena kamu masih bercerita tentang keluhanmu, pendapatmu, heranmu. Alasanku yaitu karena kamu masih hidup." 

Selasa, 01 Agustus 2017

Elegant Rose